HUBUNGAN BERPIKIR POSITIF DENGAN PEMAAFAN PADA REMAJA DENGAN ORANG TUA BERCERAI

Main Article Content

Muhammad Arif Putra Febri

Abstract

Pada dasarnya keluarga yang harmonis akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak sehingga dapat membentuk karakteristik baik dan positif untuk tumbuh kembang anak.  Tetapi hal ini tidak dirasakan oleh anak dengan orang tua yang bercerai dikarenakan perceraian memberikan dampak yang negatif pada tumbuh kembang anak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar hubungan antara variabel berpikir positif dan variabel pemaafan pada remaja dengan orang tua yang bercerai. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain kuantitatif korelasional. Variabel  bebas dalam penelitian ini adalah berpikir positif dan variabel terikatnya adalah pemaafan. Subjek dalam penelitian ini adalah 100 orang remaja dengan orang tua yang bercerai dengan menggunakan teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling. Metode pengambilan data pada penelitian ini menggunakan skala berpikir positif dan skala pemaafan. Data diolah dengan menggunakan korelasi product moment dan hasil hipotesis yang didapatkan dari penelitian ini yaitu r=0,709 dan p=0,000. Dari hasil ini dapat membuktikan bahwa adanya hubungan positif yang signifikan antara variabel berpikir positif dan variabel pemaafan pada remaja dengan orang tua yang bercerai.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Arif Putra Febri, M. (2022) “HUBUNGAN BERPIKIR POSITIF DENGAN PEMAAFAN PADA REMAJA DENGAN ORANG TUA BERCERAI”, Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development, 5(1), pp. 79-85. doi: 10.31933/rrj.v5i1.559.
Section
Sosial Sciences

References

Albrecht, K. (2009). Brain Power Learn To Improve Your Skills. New York. Published by Simon & Schuster.
Angraini, D. (2014). Hubungan kualitas persahabatan dan empati pada pemaafan remaja akhir. Jurnal Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau, 10(1), 18–24.
Annisa, R (2016). Empathy care training untuk meningkatkan perilaku memaafkan pada remaja akhir. Jurnal intervensi psikologi. 8(2) 285-303.
Berry, J. W., & Worthington, E. L. (2001). Forgivingness, relationship quality, stress while imagining relationship events, and physical and mental health. Journal of Counseling Psychology, 48(4), 447–455.
Fahmi, R. (2020). The correlation study about positive thinking and behavior forgiveness amongs students. Jurnal Al-Aqidah: Jurnal Ilmu Aqidah Filsafat, 12(2), 90–104.
Kurniasih, R.K. (2008) Hubungan antara berpikir positif dan kreatif dengan kemampuan pemecahan masalah pada remaja. Skripsi. Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta
Makin, P. E & Lindley, P. A. (1997).Mengatasi Stres Secara Positif. Alih Bahasa Triharso, G & Marcus, P. W. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
McCullough, M. E. (2000). Forgiveness as human strength: Theory, measurement, and links to well-being. Journal Of Social And Clinical Psychology, 19(1), 43-55.
McCullough, M. E., Root, L. M., & Cohen, A. D. (2006). Writing about the benefits of an interpersonal transgression facilitates forgiveness. Journa of Consulting and Clinical Psychology, 74, (5).
Nurmayasari, K., & Murusdi, H. (2015). Hubungan antara berpikir positif dan perilaku menyontek pada siswa kelas X SMK Koperasi Yogyakarta. Jurnal Fakultas Psikologi Empathy, 3(1), 8-15.
Olson, David H. eFrain, John, & Skogrand, L. (2014). Marriages and families: intimacy, diversity, and strengths. In A. Lonn (Ed.), McGraw-Hill Education (Eighth edi). McGraw-Hill Education
Putri, D, M. (2021). Hubungan antara empati dan komunikasi interpersonal dengan forgiveness pada remaja yang mengalami perceraian orang tua. Skripsi. Lampung: Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Rahmandani, A. (2015). Pemaafan dan aspek kognitif dari stres pada mahasiswi jurusan kebidanan tingkat dua. Jurnal Psikologi Undip, 14(2), 118-128
Rienneke, T. C., & Setianingrum, M. E. (2018). Hubungan antara forgiveness dengan kebahagiaan pada remaja yang tinggal di Panti Asuhan. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia, 7(1), 18-31.
Sari, R. (2019). Studi deskriptif mengenai forgiveness pada remaja yang orang tuanya mengalami perceraian di Kota Bandung dan Cimahi. Jurnal Psikologi RELIABEL, 5(5), 43-54.
Setyawan, I. (2007). Membangun pemaafan pada anak korban perceraian. Konferensi Nasional I IPK – HIMPSI : Stress Management Dalam Berbagai Setting Kehidupan, 2006, 1–18.
Sianturi, S . D. (2012). Pemaafan remaja yang pernah ditelantarkan oleh Ayahnya. E-journal. Gunadarma.
Widyana, R., & Tim Asosiasi Psikologi Islam, T. A. P. I. (2020). PSIKOLOGI ISLAM: Kajian Teoritik dan Penelitian Empirik.