RESILIENSI INDIVIDU PENYANDANG TUNARUNGU YANG BEKERJA

Main Article Content

Pitri Lestari
Rinaldi Rinaldi

Abstract

Resiliensi individu penyandang tunarungu yang bekerja. Bekerja bukanlah hal yang dapat dilakukan oleh penyandang tunarungu dengan mudah karena dengan keterbatasan yang dimiliki akan menimbulkan berbagai macam kesulitan atau kendala dilingkungan kerja tersebut. Sebagian penyandang tunarungu ini memutuskan untuk bertahan dilingkungan kerja yang sulit dan ada pula yang memilih untuk berhenti dan mencari solusi lain. Kedua hal ini adalah salah satu bentuk resiliensi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan dapat menggambarkan resiliensi pada penyandang tunarungu yang bekerja yang dilakukan pada dua orang subjek dengan metode wawancara dan observasi. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini kemudian dianalisa dengan teknik grounded teory. Dimana hasilnya menunjukkan masing-masing subjek menampilkan gambaran resiliensi setelah mengalami kesulitan dan hambatan di lingkungan kerja dimana salah satunya memilih untuk bertahan di tempat kerja tersebut dan satunya lagi memilih untuk mencari pekerjaan lain. Resiliensi yang terdapat pada masing-masing subjek dalam penelitian ini dipengarui oleh dukungan keluarga serta kemampuan dalam menghadapi kesulitan tersebut.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Lestari, P. and Rinaldi, R. (2022) “RESILIENSI INDIVIDU PENYANDANG TUNARUNGU YANG BEKERJA”, Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development, 5(1), pp. 350-359. doi: 10.31933/rrj.v5i1.614.
Section
Sosial Sciences

References

Ashrianti, N. (2006). Hubungan antara dukungan sosial degan kepercayaan diri remaja penyandang cacat fisik pada SLB-YPAC Semarang. Jurnal Psikologi Proyeksi, 1(1). 47-58
Avidan, D. E., Yahia, M. M., & Greenbaum, C. W. (2009). Divorce is a part of my life. resilience, survival, and vulnerability: young adults perceptions of the implication of parental divorce. Jurnal Of Marital and Family therapy, 35(1).
Renita, B. (2006). Bimbingan Dan Konseling SMA I Untuk Kelas X. Penerbit Erlangga: Jakarta.
Bungin, B. (2009). Penelitain Kualitatif, Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Kencana: Jakarta.
Emzir. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif, Analisis Data. Rajawali Pers: Jakarta.
Everall, A., & Paulson. (2006). A study of resilience on suicidal female adolescents. Journal of Counseling and development. 84(4).
Jackson, R., & Warkatin, C. (2004). The resilience inventory: seven essential skills for overcoming life’s obstacles and determining happiness. Selection & Development Review, 20(01), 6.
Karina, C. (2014). Resiliensi remaja yang memiliki orangtua bercerai. Jurnal Online Psikologi, 2(1), 152-169.
Karomah, S. N. (2014). Perbandingan kecendrungan perilaku bunuh diri ditinjau dari tipe kepribadian. Retrieved from http://digilib.uinsby.ac.id/395/
Kartika, D. A. (2011). Resiliensi pada single mother pasca peceraian. Skripsi. Fakultas Psikologi: Universitas Gunadarma.
Koontz., and O Donnel. (1972). Principles of Management an Analysis of Management Function 5th ed. Mc graw Hill: Boy Coy.
Kosasih, E. (2012). Cara Bijak Menghadapi Anak Berkebutuhan Khusus. Yrama Widya: Bandung.
Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Lakshita, N. (2012). Belajar Bahasa Isyarat untuk Anak Tunarungu. Javalitera: Jogjakarta.
Moleong, L. J . (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Remaja Rosda Karya: Bandung.
Neenan, M. (2009). Developing Rrsilience: A Cognitive-Behavioural Approch. New York: Routlrdge Taylor & Friends Group.
Paramitha, R, G., Kusristanti, C. (2018). Resileinsi trauma dan gejala posttraumatic stress disorder (ptsd) pada dewasa muda yang pernah terpapar kekerasan. Jurnal Psikogenesis, 6(2), 186-193.
Papalia, D. E., Old, S. W., & Feldman, R. D. (2009). Human Development Perkembangan Manusia. Jakarta: Salemba Humanika.
Pieter, H. Z. (2017). Dasar-dasar Komunikasi bagi Perawat. Jakarta: PT Kharisma Putra Utama.
Poerwandari, E. K. (1998). Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta: LPSP3 UI.
Poerwadarminta, W. J. S. (2002). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Reivich, K., & Shatte, A. (2002). The Resilience Factor: 7 Essential Skill for Overcoming Life’s Inveiable Obstacles. Boardway Books.
Sadjaah, E. (1995) Bina Bicara Persepsi Bunyi dan Irama. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Tidak Diterbitkan).
Santrock, J. W. (2011). Life Span Development. (13th ed). New York: McGraw-Hill.
Santrock, J. W. (2012). Life-Span Development. Erlangga: Jakarta.
Santoso, H. (2012). Cara Memahami dan Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Schoors. V. M. (2015). Systematic review: family resilience after pediatric cancer diagnosis. Journal of Pediatric Psychology, 40(9), 856–868.
setiawan, a., pratitis, n. t. (2015). religiusitas, dukungan sosial dan resiliensi korban lumpur lapindo sidoarjo. Persona, Jurnal Psikologi Indonesia, 137-143.
Smith, A. (2013). Excellence in Resilience.
Swastika. 2011. Resiliensi pada remaja yang mengalami broken home. Jurnal Psikologi, 1(2), 1-13.
Zautra, H., dan Murray. (2010). In Reich, J. W., Zautra, A. J., & Hall, J. S. Handbook Of Adult Resilience. New York: The Guilford Press.