KONTRIBUSI GUILTY FEELING TERHADAP MEANING IN LIFE PADA NARAPIDANA REMAJA

Main Article Content

Raidatul Tiski
Rinaldi Rinaldi

Abstract

Fenomena yang disajikan.dalam penelitian ini adalah tentang narapidana remaja ditahan dan direhabilitasi di LPKA Tanjung Pati Payakumbuh. Selama mereka menjalankan masa tahanan, ditemukan sudut pandang bagaimana memaknai hidup dan mengelolah rasa bersalah mereka sehingga bisa menjadi pribadi yang lebih baik saat keluar dari LPKA Tanjung Pati Payakumbuh. Tujuan dari penelitian ini mengetahui kontribusi guilty feeling terhadap meaning in life pada narapidana remaja. Kuantitatif adalah metode yang digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan menggunakan teknik Skala Likert. Sampel dikumpulkan melalui teknik purposive sampling dengan jumlah responden 42 narapidana remaja. Ditemukan terdapat kontribusi guilty feeling terhadap meaning in life pada narapidana remaja yang telah meraih kebermaknaan hidup cendrung berusaha untuk memperbaiki diri, memotivasi diri, dan meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Tiski, R. and Rinaldi, R. (2022) “KONTRIBUSI GUILTY FEELING TERHADAP MEANING IN LIFE PADA NARAPIDANA REMAJA”, Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development, 5(1), pp. 550-557. doi: 10.31933/rrj.v5i1.643.
Section
Sosial Sciences

References

Bastaman, D. H. (2007). Logo Terapi Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Brassai, L., Piko, B. F., & Steger, M. F. (2011). Meaning in life: Is it a protective factor for adolescents’ psychological health?. International Journal of Behavioral Medicine, 18(1), 44–51. https://doi.org/10.1007/s12529-010-9089-6
Habibi, M. I. (2020). Penerapan teori logoterapi dalam mengatasi guilty feeling (rasa bersalah) pada warga binaan. Skripsi. Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Hikmah, M. N., & Syafiq, M. (2015). Perubahan diri narapidana pembunuhan berencana. Jurnal Psikologi Teori Dan Terapan, 6(1), 35.
Hilman, D. P., & Indrawati, E. S. (2017). Pengalaman menjadi narapidana remaja di lapas klas i semarang. Empati, 6(3), 189–203.
Mukhlis, A. (2011). Pengaruh terapi membatik terhadap depresi pada narapidana. Psikoislamika : Jurnal Psikologi Dan Psikologi Islam, 8(1), 99–115.
Rochmawati, D. H., Febriana, B., & Nugroho, P. A. (2014). Pengaruh logoterapi terhadap konsep diri dan kemampuan memaknai hidup pada narapidana remaja di lembaga pemasyarakatan kelas i semarang. Jurnal Keperawatan Soedirman, 9(3)
Sholichatun, Y. (2011). Stres dan staretegi coping pada anak didik di lembaga pemasyarakatan anak. Jurnal Psikologi Islam, 8(1), 23–42
Sugiyono. (2013). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Tangney, J. P., Stuewig, J., & Mashek, D. J. (2007). Moral emotions and moral behavior. Annual Review of Psychology, 58, 345–372.
Tangney, J. P., Stuewig, J., Mashek, D., & Hastings, M. (2011). Assessing jail inmates’ proneness to shame and guilt: Feeling bad about the behavior or the self?. Criminal Justice and Behavior, 38(7), 710–734.
Tridhonanto, A. (2010). Meraih Sukses dengan Kecerdasan Emosional. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Utami, R. R., & Asih, M. K. (2016). Konsep diri dan rasa bersalah pada anak didik lembaga pemasyarakatan anak kelas iia kutoarjo. Jurnal Indigenous, 1(1), 123.
Xu, H., Bègue, L., & Shankland, R. (2011). Guilt and guiltlessness: An integrative review. Social and Personality Psychology Compass, 5(7), 440–457.