Makna Simbolik Gerak Tari Kebo Kinul di Desa Genengsari Kabupaten Sukoharjo
##plugins.themes.academic_pro.article.main##
Published
Jun 8, 2026
Abstract
Based on the research that has been explained, Kebo Kinul Dance is a traditional art form that developed from folklore closely connected to the daily lives of local people and village traditions, such as the earth alms ceremony. This dance evolved from symbolic representations of community activities, particularly the hard work of farmers in the rice fields, which were later transformed into a dance performance by residents and artists. The essence of the Kebo Kinul movements is derived from everyday community activities. For example, the footsteps symbolize the movements of buffaloes, the shoulder movements represent the strength of the buffalo, and the rotating movements convey energy and enthusiasm. The stiff movements are not considered a weakness of the dance; instead, they have become one of its distinctive characteristics. In addition, the use of costumes made from straw further strengthens the identity and uniqueness of the dance. Furthermore, the costumes and performance forms contain figurative meanings that illustrate the relationship between humans, animals, and the surrounding environment. In general, Kebo Kinul Dance is not merely a form of entertainment, but also symbolizes persistence, togetherness, humility, and gratitude to the Creator for the harvest and the life that have been received
##plugins.themes.academic_pro.article.details##

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Hak Cipta :
Penulis yang mempublikasikan manuskripnya di jurnal ini menyetujui ketentuan berikut:
- Hak cipta pada setiap artikel adalah milik penulis.
- Penulis mengakui bahwa Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development berhak menjadi yang pertama menerbitkan dengan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International (Attribution 4.0 International CC BY 4.0) .
- Penulis dapat mengirimkan artikel secara terpisah, mengatur distribusi non-eksklusif manuskrip yang telah diterbitkan dalam jurnal ini ke versi lain (misalnya, dikirim ke repositori institusi penulis, publikasi ke dalam buku, dll.), dengan mengakui bahwa manuskrip telah diterbitkan pertama kali di Ranah Research.
References
Anggraini, E. C. (2023). Makna simbolis Tari Jejer Gandrung Kembang Menur Banyuwangi. APRON: Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan, 11(1).
Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta.
Bandem, I. M. (1996). Etnologi Tari Bali. Kanisius.
Dewi, L. Y., Suryanto, E., & Rohmadi, M. (2024). The Value of Local Wisdom in Kebo Kinul Dance Folklore as a Media for Student Character Education.
Erlinda. (2024). Makna simbolik pada Tari Piring: Kajian semiotika dalam tari tradisional Minangkabau. Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan, 11(1), 46–58.
Fathonah, S., Paramita, S., & Utami, L. S. S. (2019). Makna pesan dalam tari tradisional (Analisis deskriptif kualitatif makna pesan dalam kesenian Tari Piring. Koneksi, 3(1), 99–104.
Geertz, C. (1981). Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Pustaka Jaya.
Hapidzin, R. I., Masunah, J., Narawati, T., & Sunaryo, A. (2024). Symbolic meaning and Trisilas values in the Bakti Purnamasari traditional ceremony. Mudra: Jurnal Seni Budaya, 39(2), 177–184.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.
Langer, S. K. (1957a). Problems of Art: Ten Philosophical Lectures. Charles Scribner’s Sons.
Langer, S. K. (1957b). Problems of Art. Charles Scribner’s Sons.
Lestari, I. Y. (2016). Perkembangan Bentuk Penyajian Tari Kebo Kinul di Kabupaten Sukoharjo Tahun 1950–2015.
Martino, T., & Jazuli, M. (2019). Makna Simbolik Pertunjukan Tari Topeng Klana Cirebon Gaya Palimanan. Jurnal Seni Tari, 8(2), 161–175.
Moleong, L. J. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya.
Nurwahidah, N., & Saputra, A. T. (2023). Legitimasi kedatuan dalam Tari Pajaga Bone Balla Anaddara Sulessana. Panggung, 33(3).
Oktavianus, O., Citrawati, A. A. I. A., Nurmalena, N., & Fakhrizal, H. (2024). Makna simbolis dan filosofi di balik gerakan tari tradisional Indonesia. Aksara: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 35(2), 211–223.
Purnomo, S., Haryanto, S., Nawanti, R. D., Santoso, W. T., & Fuadi, D. (2024). Peranan pendidikan karakter melalui nilai-nilai kearifan lokal di sekolah seni pertunjukkan. JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 7(7), 6300–6305.
Putri, F. A. R. (2024). Analisis Makna Filosofis lan Nilai Pendhidikan Sajroning Tari Kebo Kinul.
Rohidi, T. R. (2011). Metodologi Penelitian Seni. Cipta Prima Nusantara.
Rosiana, F., & Arsih, U. (2021). Makna simbolik Tari Topeng Tumenggung gaya Slangit Cirebon. Jurnal Seni Tari, 10(2), 142–151.
Sedyawati, E. (2006). Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Raja Grafindo Persada.
Soedarsono. (1977). Tari-Tarian Indonesia I. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan.
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Suvina, N., & Kariyani, N. (2024). Transformasi budaya Begaba dalam penciptaan koreografi tari berbasis budaya agraris masyarakat Sumbawa. Jurnal Seni Dan Budaya, 15(1), 45–58.
Wardani, P. K., Sari, D. P., & Nugroho, A. (2023). Improving appreciation of traditional dance through case-based learning models. Jurnal Pendidikan Tari, 4(2), 89–101.
Wiradharma, G., Sediyaningsih, S., & Prasetyo, M. A. (2024). Makna etis dan estetis pada tari tradisional Aceh, Betawi, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Perspektif, 13(2), 436–443.
Yatim, H., Sahnir, N., & Pratamawati, E. W. S. D. (2024). Pembelajaran tari berbasis kearifan lokal berorientasi konstruktivisme dalam meningkatkan kreatifitas siswa. Jurnal Pakarena, 9(2).
Yuniar, N. R. P., & Slamet, S. (2023). Makna simbolik Tari Sesanduran di Kabupaten Tuban. Greget: Jurnal Kreativitas Dan Studi Tari, 22(2), 133–144.