Pertimbangan Hakim dalam Memutus Tindak Pidana Perdagangan Manusia Melalui Modus Pernikahan di Kalimantan Barat (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Ketapang Nomor 400/PID.SUS/2019/PN.KTP)

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Kezia Jessica Aurellia

Abstract

This article discusses judicial considerations in deciding a human trafficking crime committed through a marriage modus in West Kalimantan, based on Decision Number 400/Pid.Sus/2019/PN.Ktp of the Ketapang District Court. The issue examined is how the panel of judges considered the criminal act of assisting human trafficking through an overseas marriage scheme. This study uses legal research with statutory and conceptual approaches. The primary legal materials are Law Number 21 of 2007 concerning the Eradication of the Crime of Trafficking in Persons and Decision Number 400/Pid.Sus/2019/PN.Ktp, supported by secondary and tertiary legal materials. The research shows that the defendant was lawfully and convincingly proven to have assisted the crime of trafficking in persons as charged in the second alternative indictment, namely Article 10 in conjunction with Article 4 of Law Number 21 of 2007. The judges’ reasoning was based on juridical considerations, namely the fulfillment of the elements of the criminal act; philosophical considerations, namely justice and legal truth as reflected in the sentence; and sociological considerations, namely aggravating and mitigating circumstances as well as the social impact of the crime. Therefore, the judicial consideration in the decision is considered appropriate and fair according to law

##plugins.themes.academic_pro.article.details##

How to Cite
Aurellia, K. J. (2026) “Pertimbangan Hakim dalam Memutus Tindak Pidana Perdagangan Manusia Melalui Modus Pernikahan di Kalimantan Barat (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Ketapang Nomor 400/PID.SUS/2019/PN.KTP)”, Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development, 8(6), pp. 2392-2399. doi: 10.38035/rrj.v8i6.2299.

References

Ali, M., & Pramono, B. A. (2011). Perdagangan orang: Dimensi, instrumen internasional dan pengaturannya di Indonesia. Citra Aditya Bakti.
Chazawi, A. (2002). Pelajaran hukum pidana bagian 1. RajaGrafindo Persada.
Harkrisnowo, H. (2007). Tindak pidana perdagangan orang: Beberapa catatan. Law Review, 7.
Irianto, S., Meij, L. S., Purwanti, F., & Widiastuti, L. (2005). Perdagangan perempuan dalam jaringan pengedaran narkotika (B. Rahmanto, Ed.). Yayasan Obor Indonesia.
Marzuki, P. M. (2014). Penelitian hukum (ed. revisi, cet. ke-9). Kencana.
Novianti. (2014). Tinjauan yuridis kejahatan perdagangan manusia (human trafficking) sebagai kejahatan lintas batas negara. Jurnal Ilmu Hukum Jambi, 5(2), 50–66.
Nuraeni, N., & Kania, D. (2017). Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dalam perspektif hukum Islam. Al-’Adalah, 14(1), 131–156. https://doi.org/10.24042/adalah.v13i3.1866
Nuraeny, H. (2013). Tindak pidana perdagangan orang: Kebijakan hukum pidana dan pencegahannya. Sinar Grafika.
Pengadilan Negeri Ketapang. (2019). Putusan Nomor 400/Pid.Sus/2019/PN.Ktp.
Republik Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Republik Indonesia. (2007). Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
Takariawan, A., & Putri, S. A. (2018). Perlindungan hukum terhadap korban human trafficking dalam perspektif hak asasi manusia. Jurnal Hukum IUS Quia Iustum, 25(2), 237–255. https://doi.org/10.20885/iustum.vol25.iss2.art2
Wantu, F. M. (2012). Mewujudkan kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan dalam putusan hakim di peradilan perdata. Jurnal Dinamika Hukum, 12(3), 479–489. https://doi.org/10.20884/1.JDH.2012.12.3.121
Wulandari, C., & Wicaksono, S. S. (2014). Tindak pidana perdagangan orang (human trafficking) khususnya terhadap perempuan dan anak: Suatu permasalahan dan penanganannya di Kota Semarang. Yustisia, 90, 15–26.
Yulia, R. (2010). Viktimologi: Perlindungan hukum terhadap korban kejahatan. Graha Ilmu